Tampilkan postingan dengan label Milad-Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Milad-Kita. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2015

Lilin Kenangan

"Umur bertambah dan jatah usiaku makin berkurang...."

Empat hari yang lalu, lebih tepatnya tanggal 16 Januari adalah hari kelahiranku. Alhamdulillah ya masih diberi kesempatan untuk bernapas oleh-Nya.

Setahun ini banyak peristiwa penting yang telah terjadi dalam hidupku. Pahit, manis, asam, asin dan hambar; semuanya ada. Haruskah aku protes kepada-Nya? Ah, tidak! Aku selalu berharap semua ini yang 'terbaik untukku'. Bukankah sebaik-baiknya rencana adalah rencana-Nya? Ya, berpikir positif dan berusaha mengatasi semua ini dengan cara yang terbaik. InsyaAllah.

Bagaimana dengan mimpi-mimpiku? Entahlah, masih banyak yang terbengkalai :(

Untuk kalian yang mendoakanku; baik yang terang-terangan maupun yang tidak aku ketahui. Kuucapkan terima kasih banyak untuk kalian, semoga Allah membalasnya yang lebih baik. Aamiin. Maaf belum bisa membalas satu persatu; sms atau yang di facebook.

Ada moment paling so sweet yang terjadi sabtu kemarin. Aku menyebutnya, "Lilin Kenangan".

Ketika aku sedang terlena dengan buaian kasur. Ketika aku berpikir ingin menelpon seseorang yang jauh di sana. Tiba-tiba tante masuk kamar dengan membawa coklat dan di atasnya ada lilin yang menghiasi. "Selamat ulang tahun sayang...." Ujar Tante.

Mimpi apa aku semalam? Tante memberikanku sebuah kejutan? 
Tanteee.... tante berhasil membuatku menagis haru dipelukkanmu. Hiks. 
Tante Ony, arigatoo gozaimasu (^^-)....
 
--Bahagia itu sederhana. Seperti kau membawakanku coklat dan lilin di atasnya. 
Tak perlu mahal, karena yang membuatku bahagia saat menerimanya adalah tante melakukan ini dengan tulus. Ya, aku bisa merasakannya saat itu.--

Sabtu, 07 Desember 2013

part2#Danau cinta, bersamamu..

Setiap orang mempunyai rencana.
Namun, sebaik-baiknya rencana adalah rencana Allah.

Pada akhirnya, tertahan lebih lama dari semua yang telah di rencanakan. Setelah acara sharing semalam, kini kutahu penyebab ia ingin bergegas pergi meninggalkan tempat ini, tempat yang masih baru dikenalnya.

***&&&***

Kedua bola mata ini tak ingin berhentih menatapnya, walau hanya sedetik. Raut wajah yang teduh dan damai. Apa yang bisa kulakukan untuknya, untuk sahabat baruku ini. Memutar otak. Berfikir keras berharap sebuah ide segera datang menghampiri.

Dreeett.. dreett..

Sebuah pesan masuk di ponselnya dan seketika membuyarkan semua lamunanku. Ia terbangun. Dengan malas, dengan rasa kantuk yang masih melekat di pelupuk mata, ia meraih hpnya dan meletakkan kembali.

"Hey.. belum tidur po?" Ia berkata sambil menggerakkan kelopak matanya beberapa kali, seolah-olah ingin menghilangkan rasa kantuk.

"Belum, belum bisa tidur" Jawabku singkat.

"Oh, kalau begitu, aku duluan ya? Masih ngantuk nih" katanya sambil membenarkan posisi tidur.

"Yup, oyasumi nasai | selamat istirahat" Untuk beberapa waktu menanti jawaban, namun ia tak bergeming. Mungkin, rasa lelah telah membawanya pergi begitu cepat melang-lang buana di dunia mimpi.

Membaringkan tubuh ini di sampingnya. Menatap langit-langit kamar, sambil memikirkan rencana untuk besok. Hingga rasa kantuk mulai menyerbu, tak kuat menyangga lagi. Perlahan mulai redup. Gelap gulita. Dan aku 'jatuh' tertidur.

***&&&***

Dinginnya udara di pagi hari membuatku terjaga, masuk tanpa permisi melalui pintu yang terbuka lebar, seolah menantang. Memperkatikan sekitar, rupanya masih satu-dua yang telah terbangun. Aku bangkit menuju kamar mandi untuk bersih diri, tak lama kemudia menunaikan sholah subuh berjama'ah.

Hari ini, hari terakhir bersamanya, bersama mereka. Jika boleh meminta, aku ingin meminta pada sang fajar untuk tak secepat biasa kembali menyapa. Namun apalah daya, waktu akan terus berjalan, tak mengenal siap atau tidak.

***&&&***

Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit.. Aku mulai resah. Kenapa mereka tak kunjung datang? Padahal tempat tinggal itu tak terlalu jauh ke tempat ini, tak membutuhkan waktu yang lama jika ditempuh dengan mengendarai sepeda motor atau mereka..

Benar saja, di menit ke dua puluh tiga, aku menangkap sosok mereka dari jauh. Berjalan dengan santai. Disini aku? Egois! Aku juga ingin mengabadikan momen ini. Melangka menusuri jembatan dengan membawa rasa kecewa. Duduk ditepi danau yang berlawanan. Mereka memanggil, aku tak menghiraukan. Mereka mendekat, aku menjauh. Biarlah mereka mengerti bahwa aku kecewa.

Ketika menyusuri danau seorang diri, aku terpaku melihat apa yang dilakukan salah satu pengunjung, memberi makan ikan. Melangka mendekat berharap bisa menghilangkan rasa ini.

Cukup lama, aku mendiamkan mereka.

Hingga akhirnya salah satu dari mereka menjemputku, Mbak Uki. Aku pikir, sudah saatnya kembali. Menyeimbangkan langkah kaki ini dengannya. Semakin mendekat dan..

"Ciee.. darimana buk? Menanti sang pangeran ya..?" Goda salah satu mereka.

"Iye, lagi menanti sang pangeran menjemput malah si putri yang datang" jawabku dengan wajah marah yang dibuat-buat. Sontak semua orang tertawa melihat tingkahku.

"Masih ngambek nih?" Tanyanya lagi.

Diam, hanya seulas senyum yang tampak di wajah. Kalau kalian tau, aku tak bisa melakukan itu berlarut-larut pada kalian. Apa lagi hari ini..

Setelah beberapa saat mengikuti sharing, aku pamit keluar sebentar di temani mbk Uki. Tak butuh waktu yang begitu lama untuk kembali lagi ke tempat semula. Dengan perasaan senang membawa satu kantong perlengkapan untuk mendukung rencana. Berharap rencana berjalan dengan lancar.

Saat sesi sharing selesai, saat itu pula rencana di laksanakan. Tepatnya pada saat sesi foto-foto di depan nama taman. Aku bersama si reni keluar dari balik batu besar dan..

"Happy birthday to you.. happy birthday to you.." suara yang lain mulai mengikuti. Betapa bahagianya ia. Aku tak kalah bahagia. Ketika ia mulai memanjatkan do'a, hatiku berdesir. Do'anya begitu khusyuk.

Ya Allah.. terima kasih untuk hari ini. Terima kasih telah mempertemukan kami. Aku sangat beruntung mengenalmu, mengenal kalian. Sungguh, aku mencintai persahabatan ini karenaMu. Memory bersamanya, bersama mereka tak kan pernah kulupakan, insyaAllah.

Angin, danau, semua yang hadir dan apa pun yang ada di sekitar adalah saksi bisu persahabatan kami. Inilah skenario Allah untukku, di pertemukan dengan orang hebat seperti kalian. Dan yang paling membekas denganmu, mbak DJS ^^ Rupanya Allah mengirimkan satu bintang lagi untukku. Hari ini juga saksi bisu ulang tahun kami; DJS, Me dan AS. Hanya beda enam hari, subhanaAllah :')

Lagi-lagi aku ingin mengatakan ini pada kalian semua..
Uhibbuki fillah, ukhti.. 

*Apa kabar sahabat disana? Aku merindukan kalian ^^
*Jazakumullah khair katsir untuk keluarga JIMM di Unair yang telah sudi menerima kami. Afwan jiddan telah merepotkan.


 Jember, 081213
Memory bersama kalian
Danau cinta, 220113

Jumat, 01 Februari 2013

special for me?

Bismillah..

Pedang bagai menebas sang waktu. Miladku telah berlalu. Ku pikir, tak ada yang mengingatkan hari miladku. Ternyata aku salah! Bisa jadi dia, dia dan dia ingin memberika kejutan namun terhalang oleh waktu, alias libur kuliah. Sedihnya T.T

Kemarin, 31 januari, seorang sahabat ngotot banget minta ketemuan di serambi masjid Fmipa. Eh ternyata.. eh ternyata.. dia memberikanku sebuah kado milad. Hmm.. Tak bisa menerawang karena terhalang oleh koran yang sebagai pembungkusnya. Menarik? tidak :D namun cukup membuatku penasaran. hehe..

Sebelum kami berpisah, dia mengatakan permintaan maafnya untukku. Apa yang harus di maafkan? kurasa tak perlu. Bukankah begitu?

Kami pun pergi berlawanan arah. Yah! karena tujuan kami berbeda. Belum lama kaki melangkah, teringat kembali dengan kado itu. Aku pun bergegas ke gerdu yang berada di depan gedung matematika. Tempat ini tampak sepih. Karena saat ini, masih liburan semester.

Perlahan-lahan kubuka, daaannn.... ternyata sebuah tepak makan yang cantik dengan warna pink #kalau boleh jujur, aku tak suka pink. Ku hargai itu :) jazaakillah sholehah.. Eh, rupanya ia juga memberikanku sebuah surat. Lagi-lagi melakukannya dengan unik, menulis di selemar tisu. ckckkk.. ayak ayak wae..

Ini kutipannya ^_^
15 hari selepas tanggal 16 januari
Semoga tetap gak mengurangi
Esensi dari doa dihari lahirmu
20 tahun
Ya, umurmu sudah berkepala 2
Bukan umur yang mudah lagi, memang
Dan tentunya bukan lagi seorang remaja
Tapi kini kau telah menjadi perempuan dewasa
Umur semakin tua
Usia semakin berkurang
Pastinya amanah juga semakin banyak
Semoga  sisa usiamu jadi usia full manfaat bin barokah
Jangan lupa makan!!
Harapannya, hatimu, akhlakmu selembut warna tepak makan ini.
Dan kehadiranmu se-fungsional tepak makan ini juga

Ah, kau ini.. Jazakillah, akan ku ingat selalu.. Semoga dengan seiringnya waktu aku dapat menyukai warna tepak makan ini :D hehe. Pernah mendengarkan begini, "Jika kau tak menyukai pelajarannya, mulailah menyukai orang yang mengajarimu". Begitu juga kisah ini, aku menyukaimu sahabat dan mencoba menyukai warna tepak ini :p

31 Januari 2013
Kau yang selalu dihati, sahabatku
Miss You

Minggu, 20 Januari 2013

Sepucuk Surat Untukmu

Aku masih ingat dengan tanggal lahirmu. Enam hari sebelum tanggal lahirku.
.
Masih ingat percakapan kita beberapa hari yang lalu? Saat itu aku bertanya sembari mencari hadiah untukmu. Mencari dari satu rak ke rak lain, berharap segera mendapatkan buku yang pas -pas untukmu dan pas dikantung, eh :D- dan pilihanku jatuh pada novel Sang Pemusar Gelombang karya M. Irfan H., menceritakan kehidupan Syaikh Hasan Al Banna. Di dalamnya aku menulis sepucuk surat untukmu. Semoga menyukai keduanya dan bermanfaat.
.
Harimu telah berganti
Tahun dan masa lalu telah terlewat
Tahun baru telah datang
Umurmu telah terganti
Dan seiringnya perubahan itu
Aku ingin mengucapkan
S.E.L.A.M.A.T_M.I.L.A.D
Semoga dengan bertambahnya masamu
Akan lebih mendekatkan padaNya
Akan menjadikanmu sosok yang dirindui SurgaNya
Ketahuilah..
Aku ingin melangkah bersamamu untuk menegakkan DienNya
Aku ingin berjuang bersama untuk ISLAM
Karena itulah kunci amal kita
Akupun turut berdo'a untuk kebahagiaanmu
Serta mimpi-mimpi yang kau rajut
Tetaplah menjadi dirimu, namun rubahlah akhlakmu
Menjadi lebih baik
Agar Ainul Mardiyah pun cemburu padamu
.
.
.
Jbr, 200113