Bismillah...
Bintang, apa kabarmu?
Kau sedang apa?
Saat ini, aku sedang memandangmu, sinarmu tampak indah bersanding dengan gelapnya malam.
Kau tau?
Kehidupan ini tidak akan lama bukan?
"Meninggalkan" atau "Ditinggalkan"
Hatiku masih berkabut. Seorang sahabat meninggalkanku. Yah, pergi dan
tak kembali. Aku percaya, ini lah skenario Allah terbaik untuknya,
untukku dan untuk kita semua.
Teringat akan janjiku padanya.
Mungkin, saat ini aku tak dapat melihat dan bersua kembali dengannya.
Berharap, kelak akan berkumpul bersama di jannahNYA.
Uhibbuki fillah, ukhti.. :')
Meski kau telah tiada, tetap kau akan hidup di hatiku, di hati kami. Jejak hidupku bersamamu, akan ku simpan di ruang hatiku.
Do'aku, do'a kami menyertai kepergianmu..
Ar-Rahman telah berfirman:
“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian
dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya
kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)
“Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik dari pada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah aku lantaran ketidak tahuan mereka” (Abu Bakar As-Shiddiq RA) BagiMulah segala puja puji, dengan hati badan dan lisanku.
Jumat, 23 Agustus 2013
Kamis, 22 Agustus 2013
Segelintir rindu, mewarnai Fmipa
Bismillah..
Baiklah, izinkan saya untuk mengucapakan sepatah dua patah untuk kalian *seperti mau pidato saja. Meski terlambat, berharap tidak mengurangi esensi hari raya Idhul Fitri. Saling memaafkan.
Berhenti sejenak..
Kutegok masa lalu..
Goresan dosaku tak terhingga..
Maaf, aku khilaf..
Kuharap, kau memaafkanku..
Saling memaafkan..
Mari kita mulai lembar baru..
Menghapuskan semua yang telah berlalu..
Kembali ketujuan awal.
Dua bulan lamanya aku meninggalkan kalian. Mungkin lebih. Maaf, beribu ribu maafku pada kalian. Tanpa tersadar, aku telah menzolimi kalian. Bagaimana tidak? Amanah yang seharusnya tugasku, kuterlantarkan begitu saja. Hingga kalian yang mengerjakan.
Apa kalian tau?
Cinta yang katanya bukan ilmu dan konsep yang dirumuskan oleh kaderisasi. Cinta pada lembaga atau organisasi yang hidup dan menghidupkan. Jika tidak, ia hanyalah sekedar 'amanah' yang berat dipundak.
Kalian tau zombie?
Mayat hidup yang bergerak tanpa ruh dan cita-cita.
Tersentak. Diam. Sunyi..
Itu yang kurasa setelah membaca catatan seorang teman. Bagaimana dengan kalian? Apa kalian ingin seperti itu? Kuharap, kalian berkata tidak. Begitu pula dengan ku. Meratapi semua yang terjadi? Ah, itu tidak ada gunanya. Untuk intropeksi diri, bolehlah. Tapi jangan berlarut-larut. Menyalahkan diri sendiri? atau yang lain? itu juga tak perlu.
Apa kalian tau?
Hari ini, nanti, esok dan seterusnya.. menunggu kita. Mari kita saling mengingatkan dikala kita salah dan saling mengkuatkan dikala jiwa kita sedang rapuh. Saling bergadeng tangan untuk mewujudkan Visi dan Misi kita *sesama mahromnya. Dengan bersama meringankan beban. Kita bisa.. MEWARNAI FMIPA. Yah, itulah tujuan kita. Tujuan utama kita.
Terimakasihku pada kalian. Berbagai organisasi kusinggahi. Cintaku berlabu padanya, Ions. Tarbiyah. Yah, karena ia yang telah memungutku. Dari orang yang tak mengerti apa-apa, menjadikan aku seperti saat ini. Meski banyak yang belum ku ketahui dan ku pelajari.
Dengan sebuah pena, ku utarakan semua.
Berharap aku, kamu adalah kita yang membaca tergerak hatinya setelah membaca ini.
Aku tidak mampu mengatakannya. Biarlah pena ini yang berbicara.
Jika ada salah kata, mohon maaf..
22 Agustus 2013
Disudut kamar
Minggu, 21 April 2013
Sepenggal Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib RA
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada
siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang
adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya,
ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu
hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang
dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh
cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah
ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis.
Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian
oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia
berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling
tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah
menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut
jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali
tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak
ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar
seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan
Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak
awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu
Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku
rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia
dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun
keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di
ranjangnya..Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda’wah.
Lihatlah
berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam
karena sentuhan Abu Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah,
Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan
kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa
banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu
Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..Dan siapa
budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakar
sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya
pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran
Abu Bakar ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk
mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu
Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang
gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum
muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat
syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn
Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah
kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang
masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakar. Tapi
siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan
kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua
pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya
pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku
datang bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan
’Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan ’Umar..” Betapa tinggi
kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan
bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul
sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi
karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia
hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia
mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke
atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim,
atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar
adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua
segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih
layak.
Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka
’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman
sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang
seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab
binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya
hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya
’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin
mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan
mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan
itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat
itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”,
kalimat
teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak
mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang
ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka
dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi
Fathimah.Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan
pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan
tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun
untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di
batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah
berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai
’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab
atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas
pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya?
Ucapan
selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat
penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan
jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung
berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa
pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar kamu tidak mengerti, kata mereka,
”Eh,
maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa
Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!” Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin
disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar
cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya
bagi Abu Bakar, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman
sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan
yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan
di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia
mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah
pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurang juga
yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan
bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku?
dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian
Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku
untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka
saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat
ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar
tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga
Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan
kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan
dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah
2:183, bab4).
Diambil dari "Jalan Cinta Para Pejuang" karangan Salim A. Fillah
KISAH AKHIR HAYAT MUHAMMAD RASULULLAH
Allah SWT berfirman :
“…Pada hari ini
orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab
itu janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk mu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(QS. Al-Maidah 5:3)
Diriwayatkan bahwa surat Al-Maidah
ayat 3 di atas, turun setelah waktu Ashar berselang, tepatnya pada hari
Jumat di Padang Arafah saat musim haji penghabisan (haji wada). Ketika
itu Rasulullah SAW sedang berada di atas onta Padang Arafah. Ketika
ayat tersebut turun, Rasulullah kurang begitu mengerti apa isyarat yang
berhubungan dengan turunnya ayat tersebut. Lalu, Beliau bersandar pada
ontanya, kemudian onta Beliau pun duduk secara perlahan-lahan.
Setelah itu turunlah Malaikat Jibril dan berkata :
“Wahai
Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan
agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan
demikian juga larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, kumpulkanlah para
sahabatmu dan beritahu mereka, hari ini adalah terakhir aku bertemu
denganmu.”
Kemudian Malaikat Jibril pergi, Rasulullah SAW
pun berangkat ke Mekah dan terus melanjutkan perjalanan ke Madinah.
Rasulullah mengumpulkan para sahabat dan menceritakan apa yang telah
dikabarkan Malaikat Jibril kepada dirinya. Mendengar hal ini, para
sahabat pun gembira sambil berkata :
“Agama kita telah sempurna . Agama kita telah sempurna.”
Tetapi
berbeda dengan Abu Bakar Ash-Shidiq, mendengar keterangan Rasulullah
itu, ia tidak kuasa menahan kesedihannya dan langsung pulang ke rumah.
Lalu mengunci pintu rapat-rapat dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar
menangis dari pagi hingga malam.
Kisah tentang Abu Bakar
menangis itu kemudian sampai kepada para sahabat ynag lain. Lalu
berkumpullah para sahabat di hadapan rumah Abu Bakar, dan mereka
berkata:
“Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat
engkau menangis seperti ini? Bukankah, seharusnya engkau gembira sebab
agama kita telah sempurna.”
Mendengar pertanyaan dari para sahabat tersebut, Abu Bakar pun berkata :
“Wahai
para sahabatku, kalian tidak tahu tentang musibah yang akan menimpa
kita. Tidakkah engkau tahu, saat suatu perkara itu sempurna, akan
terlihat kekurangannya. Karena itu dengan turunnya ayat tersebut suatu
pertanda telah datang waktu yang sangat menyedihkan, yaitu sebentar
lagi kita akan berpisah dengan Rasulullah SAW. Fatimah menjadi yatim
dan para isteri Nabi menjadi janda.”
Setelah mereka
mendengar penjelasan Abu Bakar, sadarlah mereka akan kebenaran
kata-kata Abu Bakar. Mereka pun menangis dengan sekencang-kencangnya.
Tangisan mereka itu kemudian didengar oleh sahabat-sahabat lainnya,
lantas mereka pun memberitahu Rasullah tentang apa yang terjadi.
Berkatalah salah seorang dari sahabat :
“Ya,
Rasulullah, kami baru pulang dari rumah Abu Bakar dan kami melihat
banyak orang sedang menangis dengan suara kuat di rumah beliau.”
Ketika
Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat itu, berubahlah
air muka Beliau dan bergegas menuju ke rumah Abu Bakar. Setelah sampai
di rumah Abu Bakar, Beliau melihat semua menangis dan Beliau pun
bertanya :
“Wahai para sahabatku, kenapa kalian menangis?”
Ali bin Abi Thalib berkata :
“Ya,
Rasulullah, Abu Bakar mengatakan bahwa dengan turunnya ayat ini
membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya
Rasulullah?”
Lalu Rasulullah berkata :
“Semua yang dikatakan Abu Bakar adalah benar dan sesungguhnya waktuku untuk meninggalkan kalian semua sudah dekat.”
Setelah
Abu Bakar mendengar pengakuan Rasulullah SAW, ia justru menangis
sekuat tenaga, sampai ia jatuh pingsan. Sementara Ali bergetar kemudian
terkapar tubuhnya. Para sahabat lain pun menangis dengan sekuat-kuat
yang mereka mampu. Sehingga gunung-gunung, batu-batu, semua malaikat
yang di langit, cacing-cacing yang menggeliat di bumi dan semua
binatang, baik yang di darat maupun di laut turut menangis.
Kemudian Rasulullah bersalaman dengan para sahabat satu persatu dan berwasiat kepada mereka.
Rasulullah diQishash
Jangka
waktu Rasulullah SAW hidup setelah turunya ayat tersebut, ada yang
mengatakan 81 hari, ada yang mengatakan Beliau hidup 50 hari, ada yang
mengatakan hidup selama 35 hari dan ada pula yang mengatakan bahwa
beliau hidup 21 hari.
Pada saat ajal Rasulullah SAW sudah
dekat, Beliau menyuruh Bilal adzan untuk mengerjakan salat. Lalu
berkumpullah para Muhajirin dan Anshar di Masjid Rasulullah. Kemudian
Beliau menunaikan salat dua rakaat bersama semua yang hadir. Setelah
selesai salat, Beliau bangkit lalu naik ke atas mimbar, seraya berkata :
“Alhamdulillah,
wahai para muslimin, sesungguhnya saya adalah seorang nabi yang diutus
dan mengajak manusia kepada jalan Allah dengan ijin-Nya. Saya ini
adalah saudara kandung kalian, kasih sayangku pada kalian seperti
seorang ayah pada anaknya. Oleh karena itu kalau ada siapapun di antara
kalian yang mempunyai hak untuk menuntut, maka hendaklah ia berdiri
dan membalasku, sebelum saya dituntut di hari kiamat.”
Rasulullah berkata demikian sebanyak 3 kali, kemudian bangkitlah seorang lelaki bernama ‘Ukasyah bin Muhshan dan berkata :
“Demi
ayahku dan ibuku ya, Rasulullah SAW, kalau anda tidak mengumumkan
kepada kami berkali-kali soal ini, sudah tentu saya tidak mau
mengemukakan hal ini.”
Lalu ‘Ukasyah berkata lagi :
“Sesungguhnya
dalam Perang Badar saya turut bersamamu ya Rasulullah, pada saat itu
saya mengikuti onta Anda dari belakang. Setelah dekat, saya pun turun
menghampiri Anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium paha Anda.
Tetapi Anda telah mengambil tongkat dan memukul onta Anda untuk
berjalan cepat. Pada saat itu saya pun Anda pukul dan pukulan itu
mengenai tulang rusuk saya. Oleh karena itu saya ingin tahu, apakah Anda
sengaja memukul saya atau hendak memukul onta tersebut.”
Rasulullah berkata :
“Wahai ‘Ukasyah, saya sengaja memukul engkau.”
Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal:
“Wahai Bilal, pergilah engkau ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku.”
Saat keluar dari masjid menuju rumah Fatimah, ia meletakkan tangannya di atas kepala seraya berkata :
“Rasulullah SAW telah mempersiapkan dirinya untuk dibalas (diqishash).”
Ketika Bilal sampai di rumah Fatimah, Bilal memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fatimah menyahut dengan berkata :
“Siapakah yang ada di pintu?”
Bilal menjawab :
“Saya Bilal, saya telah diperintah Rasulullah untuk mengambil tongkat Beliau.”
Kemudian Fatimah berkata :
“Wahai Bilal untuk apa ayahku minta tongkatnya.”
Berkata Bilal :
“Wahai Fatimah Rasulullah telah menyiapkan dirinya untuk diqishash.”
Fatimah berkata lagi :
“Wahai Bilal siapakah manusia yang sampai hati mengqishash Rasulullah SAW?”
Bilal
tidak menjawab pertanyaan Fatimah. Setelah Fatimah memberikan tongkat
tersebut, Bilal pun membawa tongkat itu ke hadapan Rasulullah SAW.
Pembelaan Para Sahabat
Setelah
Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal, beliau pun
menyerahkan pada ‘Ukasyah. Melihat kejadian mengharukan ini, Abu Bakar
dan Umar bin Khattab tampil ke hadapan sambil berkata :
“ ‘Ukasyah janganlah engkau qishash Baginda Nabi, tetapi engkau qishashlah kami berdua.”
Ketika Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar dan Umar, dengan segera Beliau berkata :
“Wahai Abu Bakar, Umar, duduklah engkau berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk engkau berdua.”
Kemudian Ali berdiri, lalu berkata :
“Wahai
‘Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping
Rasulullah SAW, oleh karena itu, engkau pukullah aku dan janganlah
engkau mengqishash Rasulullah.”
Lalu Rasulullah SAW berkata :
“Wahai Ali, duduklah engkau, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.”
Setelah itu Hasan dan Husein berdiri dan berkata :
“Wahai
‘Ukasyah, bukankah engkau tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah,
kalau engkau mengqishash kami sama dengan engkau mengqishash
Rasululullah SAW.”
Mendengar kata-kata dari cucunya, Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai buah hatiku, duduklah engkau berdua.”
Berkata Rasulullah SAW :
“Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau engkau hendak memukul.”
Kemudian ‘Ukasyah berkata :
“Ya, Rasulullah SAW, Anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.”
Lantas, Rasulullah pun membuka baju. Setelah Beliau membuka baju, menangislah semua yang hadir.
Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW, ia pun mencium Beliau dan berkata :
“Saya
tebus Anda dengan jiwa saya, ya Rasulullah SAW. Siapakah yang sanggup
memukul Anda? Saya melakukan ini karena saya ingin menyentuh (memeluk)
tubuh Anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan semoga
Allah SWT menjaga saya dari neraka atas kehormatanmu.”
Kemudian Rasulullah SAW berkata :
“Dengarlah engkau sekalian, sekiranya engkau hendak melihat ahli surga, inilah orangnya.”
Kemudia
semua para sahabat bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap
peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para sahabat pun berkata
:
“Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar
bagimu, engkau telah memperoleh derajat tinggi dan bertemankan
Rasulullah SAW dalam surga.”
Wasiat Rasulullah SAW
Ketika ajal Rasulullah makin dekat, Beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah dan Beliau bersabda:
“Selamat datang, semoga Allah SWT mengasihi kalian, saya berwasiat kepada
kalian
agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati segala
perintah-Nya. Sesungguhnya hari perpisahan saya dengan kalian sudah
dekat, itu berarti semakin dekat pula kembalinya seorang hamba kepada
Allah SWT dan menempatkannya di surga-Nya.
“Kalau sampai
ajalku, hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abas hendaklah
menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah
itu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri. Jika kalian menghendaki,
kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Jika engkau memandikan aku,
hendaklah engkau letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam
rumahku ini. Setelah itu kalian keluarlah sebentar meninggalkan aku.”
“Pertama
yang akan menshalati aku ialah Allah SWT, kemudian diikuti oleh
malaikat Israfil, Malaikat Mikail dan yang terakhir malaikat Izrail
beserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu, barulah kalian masuk
semua mensalatiku.”
Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis dengan suara yang keras dan berkata :
“Ya,
Rasulullah SAW Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan
untuk semua, selama ini Anda memberi kekuatan pada kami dan Anda pula
pemimpin yang mengurus semua perkara kami. Apabila Anda sudah tiada
nanti, kepada siapakah kami bertanya setiap ada persoalan muncul?.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda :
“Dengarlah
para sahabatku, aku tinggalkan kepada kalian jalan yang benar dan
jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasehat. Yang satu
pandai bicara dan yang satu lagi diam saja. Yang pandai bicara itu
adalah Alquran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada persoalan yang
sulit dan berbelit di antara kalian, hendaklah kalian kembali kepada
Alquran dan Hadistku dan sekiranya hati engkau keras, lembutkan dia
dengan mengambil pelajaran dari mati.”
Setelah Rasulullah
SAW berkata demikian, Beliau kemudian mulai merasakan sakit. Dalam
bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari dan sering diziarahi para
sahabat.
Dalam sebuah kitab diterangkan, bahwa Rasulullah
diutus pada Hari Senin dan wafat pada Hari Senin. Pada Hari Senin
penyakit Beliau bertambah berat. Setelah Bilal selesai adzan subuh,
Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sampai di sana, Bilal memberi
salam :
“Assalamu’alaika ya Rasulullah.”
Lalu dijawab Fatimah :
“Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan Beliau.”
Setelah
Bilal mendengar penjelasan dari Fatimah, Bilal pun kembali ke masjid
tanpa memahami kata-kata Fatimah itu. Ketika waktu subuh hampir habis,
Bilal pergi sekali lagi ke rumah SAW dan memberi salam seperti tadi.
Kali ini salam Bilal telah didengar Rasulullah SAW. Baginda berkata :
“Masuklah
wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh karena
itu, kau suruhlah Abu Bakar mengimami salat subuh berjamaah dengan
mereka yang hadir.”
Setelah mendengar kata-kata
Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju masjid sambil meletakkan tangan
di atas kepala, seraya berkata :
“Aduh musibah.”
Setelah Bilal sampai di masjid, Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya.
Abu
Bakar tidak dapat menahan dirinya saat ia melihat mimbar kosong.
Lantas dengan suara keras Abu Bakar menangis hingga ia jatuh pingsan.
Melihat peristiwa itu maka riuhlah dalam masjid, sehingga Rasulullah
bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah apa yang telah terjadi?”
Fatimah pun berkata :
“Keriuhan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.”
Kemudian
Rasulullah SAW memanggil Ali dan Fadhl bin Abas, lalu beliau bersandar
pada kedua bahu mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah sampai di
masjid, Rasulullah pun salat subuh bersama dengan para jamaah. Setelah
selesai salat subuh, Beliau berkata :
“Wahai kaum
muslimin, kalian senantiasa dalam pertolongan dan penjagaan Allah. Oleh
karena itu, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah SWT dan mengerjakan
segala perintah-Nya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan
kalian. Hari ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku
di dunia.”
Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW pun pulang ke rumah.
Izrail Menjemput Rasulullah
Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Izrail :
“Wahai
Izrail, pergilah engkau kepada kekasihku dengan sebaik-baik wajah, dan
jika engkau hendak mencabut rohnya, hendaklah engkau melakukan dengan
cara yang paling lembut sekali. Jika engkau pergi ke rumahnya, minta
izinlah terlebih dahulu. Kalau ia izinkan engkau masuk, maka masuklah
engkau ke rumahnya dan kalau ia tidak izinkan engkau masuk, hendaklah
engkau kembali padaku.”
Setelah Malaikat Izrail mendapat
perintah dari Allah SWT, Malaikat Izrail pun turun menyerupai orang
Arab Baduwi. Setelah Malaikat Izrail sampai di hadapan rumah
Rasulullah, ia pun memberi salam :
“Assalamu’alaikum yaa
ahla bait nubuwwati wa ma danir risaalatia adkhulu?” (mudah-mudahan
keselamatan tetap untuk kalian, wahai penghuni rumah Nabi dan sumber
risalah, bolehkah saya masuk?)
Ketika Fatimah mendengar ada orang memberi salam, ia pun berkata :
“Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk, sebab sakitnya yang semakin berat.”
Kemudian
Malaikat Izrail berkata lagi seperti semula, dan kali ini seruan
malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW, lantas beliau bertanya
kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu.”
Fatimah menjawab :
“Ya
Rasulullah, ada seorang Arab Baduwi memanggilmu, aku telah katakan
padanya bahwa Anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang
saya dengan tajam sehingga badan saya terasa menggigil.”
Kemudian Rasulullah SAW berkata :
“Wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah orang itu?”
Jawab Fatimah : “Tidak ayah.”
“Dia
adalah Malaikat Izrail , malaikat yang akan memutuskan segala macam
nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang
memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.”
Fatimah
tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui, bahwa saat
perpisahan dengan ayahandanya semakin dekat, ia pun menangis
sejadi-jadinya.Ketika Rasulullah mendengar tangisan Fatimah, Beliau pun
berkata :
“Janganlah engkau menangis wahai Fatimah, engkaulah orang pertama dalam keluargaku yang akan bertemu denganku.”
Kemudian Rasulullah SAW pun menjemput Malaikat Izrail masuk. Malaikat Izrail pun masuk dengan mengucap :
“Assalamu’alaikum ya Rasulullah.”
Lalu Rasulullah SAW menjawab :
“Waalaikassaalam, wahai Izrail, engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut rohku?”
Berkata malaikat Izrail :
“Kedatangan
saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu, itupun kalau
engkau izinkan. Kalau tidak engkau izinkan, aku akan kembali.”
Berkata Rasulullah SAW :
“Wahai Izrail, dimanakah engkau tinggalkan Jibril?”
Berkata Izrail :
“Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia.”
Tidak
berapa lama, Jibril pun turun dan duduk dekat (di samping) kepala
Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril, Beliau
pun berkata :
“Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa ajalku sudah dekat.”
Berkata Jibril : “Ya aku tahu.”
Rasulullah bertanya lagi : “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah SWT.”
Berkata Jibril :
“Sesungguhnya
semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris rapi menanti
rohmu di langit. Semua pintu surga telah dibuka, dan semua para
bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.”
Berkata Rasulullah SAW :
“Alhamdulillah. Sekarang engkau katakan tentang umatku di hari kiamat nanti.”
Berkata Jibril :
“Allah
SWT telah berfirman : “Sesungguhnya aku telah melarang semua para Nabi
masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku
juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki
terlebih dahulu.”
Berkata Rasulullah SAW:
“Sekarang aku telah lega dan telah hilang rasa susahku. Wahai Izrail, dekatlah engkau padaku.”
Setelah itu Malaikat Izrail pun mengawali tugasnya. Ketika rohnya sampai pada ubun-ubun (pusat), Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya kematian itu.”
Jibril
nampak mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW, ketika mendengar
kata-kata Beliau. Melihat sikap Jibril itu Rasulullah SAW pun berkata :
“Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?”
Jibril berkata :
“Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu di kala engkau dalam sakaratul maut ?”
Anas bin Malik RA bercerita, ketika roh Rasulullah SAW sampai di dada, Beliau bersabda :
“Aku wasiatkan kepada engkau agar kalian menjaga salat dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu.”
Ali bin Abi Thalib berkata :
“Sesungguhnya
Rasulullah ketika menjelang saat terakhir, telah menggerakkan kedua
bibir Beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga saya dekat
dengan Rasulullah, seraya Beliau berkata :
“Umatku, umatku.”
Fathimah Az Zahra
Berikut ini adalah nasihat-nasihat dari Rasulullah SAW pada
putri ke empat Beliau, sang pendahulu para wanita, Fatimah Az Zahra ra.
Semoga dapat diambil hikmah dari kisah ini. :)
2. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.
3. Wahai Fatimah! Sesungguhnya seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya maka Allah akan tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangganya, maka Allah akan membantunya untuk dapat minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Wahai Fatimah! Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Wahai Fatimah! Di saat seorang wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Di saat seorang wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan dari kandungan ibunya. Di saat seorang wanita meninggal ketika melahirkan, maka tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala sribu orang yang melaksanakn ibadah haji dan umrah dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Wahai Fatimah! Di saat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya pada hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah pun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.
8. Wahai Fatimah! Di saat seorang istri tersenyum di hadapan suaminya maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, maka Allah akan memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allahpun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allahpun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shiratal-mustaqim dengan selamat.
Dari Abdullah bin Amr Al-Ash r.a, Rasulullah bersadbda : “DUNIA ADALAH SUATU KESENANGAN, DAN SEBAIK-BAIK KESENANGAN ADALAH WANITA YANG SHALEHAH.”
( HR. Muslim )
1. Wahai
Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan
anak-anaknya kelak Allah tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji
gandum yang diadonnya dan juga Allah akan melebur kejelekan serta
meningkatkan derajatnya.
2. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.
3. Wahai Fatimah! Sesungguhnya seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya maka Allah akan tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangganya, maka Allah akan membantunya untuk dapat minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Wahai Fatimah! Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Wahai Fatimah! Di saat seorang wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Di saat seorang wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan dari kandungan ibunya. Di saat seorang wanita meninggal ketika melahirkan, maka tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala sribu orang yang melaksanakn ibadah haji dan umrah dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Wahai Fatimah! Di saat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya pada hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah pun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.
8. Wahai Fatimah! Di saat seorang istri tersenyum di hadapan suaminya maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, maka Allah akan memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allahpun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allahpun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shiratal-mustaqim dengan selamat.
Dari Abdullah bin Amr Al-Ash r.a, Rasulullah bersadbda : “DUNIA ADALAH SUATU KESENANGAN, DAN SEBAIK-BAIK KESENANGAN ADALAH WANITA YANG SHALEHAH.”
( HR. Muslim )
Sabtu, 20 April 2013
Rencana Perawatan Hati Galau
Aku catatan ulang apa yang di dapat di kajian kemarin malam.
kenapa begitu?? yap... betul sekali, supaya tak menghilang begitu saja
:) selain itu yang tak bisa hadir bisa mengetahui isi kajian kali ini.
Dibaca ya?? ^_^ insyaAllah gak rugi.hehee
Bismillah
Malam ini
jam 18.45 wib, aku di jemput oleh mbk nisa. agenda kali ini adalah
kencan. loh.. kok?? ee... sabar, belum selesai nih ceritanya. benar,
kami pergi kencan. biasanya untuk kebanyakan orang hari ini adalah hari
yang di tunggu-tunggu. why?? karena hari ini adalah sabtu malam minggu. kencan, dengan pacar masing-masing
*maksudnya yang punya pacar loh ya ^^V. jangan salah paham dulu :D, kencan kami
bukan sembarang kencan tapi kencannya pergi ke kajian. hehe... disana
kita bertemu dengan ukhti galuh, ukhti nina, yang baru ta'aruf juga ada
dan banyak lagi teman-teman yang lainnya.
Kajian ini biasa di
panggil dengan KIDZ (Kajian Islamic Dentistry Zuperrr) yang di
selenggarakan oleh UKKI FKG UNEJ dengan tema "Rencana Perawatan Hati
Galau" yang akan di kupas tuntas oleh Ustadz.Agus Rohmawan. yuuk baca
materi yang di sampaikan Ustadz.Agus melalui versiku :D
1. Apa sih arti galau itu?? galau itu identik dengan kata bimbang, tentang sesuatu yang tak sesuai harapan, pikiran yang kacau, dan banyak lainnya lagi.
2. Pantaskah kita meng-galau?? sedangkan Allah bersama kita #intropeksi diri.
3. Taukah kalian galau itu berawal dari apa?? jawabannya adalah pacaran. jika kalian tak ingin meng-galau jangan pacaran...!! :p
4. "Yang baik di tunjukkan dan yang jelek di sembunyikan" itu biasanya yang dilakukan dalam pacaran.
5. Suatu hari ada yang bertanya "Ustad bagaimana dengan pacaran yang islami?", jika ada yang demikian sama saka bertanya seperti ini "Bagaimana minum bir islami?". tau kan jawabannya apa? betul, dalam islam hanya ada satu. menikah dulu baru pacaran :D. hee
6. Sesunggunya pacaran itu hanya mengatar kita kepada ZINA. pacaran kami islami kok. :o?? kan "cuma" belajar kelompok, kan "cuma" saling mengingatkan, kan "cuma" bla-bla-bla... semua berawal dari kata "cuma". jangan salah deh, dengan kata "cuma" bisa kau terjerumus...
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji (fashiyah) dan jalan yag buruk,” (Qs Al-Isra’: 32)
7. Bagaimana cara kita menyingkapi masalah yang datang?? sebetulnya itu tergantung kita sendiri. belum apa apa sudah galau -.-, ketahuilah Allah takkan memberikan suatu cobaan diluar kemampuan hambanya dan masalah yang datang adalah tanda bukti cinta Allah kepada kita :')
8. “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
9. Apa yang kalian pahami dari surat tersebut?? Allah memberikan sekanario terbaiknya untuk kita, insyaAllah...
10.Tips menghilangkan kegalauan FULL POWER => Paham agama, Obati dengan Al-qur'an, Waspada malas, Enyahkan kemalasan, dan Rutin mengikuti kajian.
11."Bacalah Al-Qur'an! karena sesungguhnya Al-Qur'an itu akan datang di hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi sahabat (pembaca) Al-Qur'an". (HR.Muslim)
bagaimana?? sudah taukan tips-tips menghilangkan ke-galauan :D. yap, dengan cara membacara Al-Qur'an...
semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembacanya
maaf jika ada salah kata ^_^
mohon masukannya tentang tulisan ini ye...
perbaikan untuk kedepannya...
jazakillah khoir
salam ukhuwah ^_^
Jumat, 19 April 2013
Jalan Dakwah
Bismillah...
Iseng-iseng buka lapak orang, dapat seperti ini ^_^... cukup mewakili...
Rabb,
Ampunikami bila selama ini kami masih berada dalam zona nyaman,..
berlindung di balikpredikat shaleh/shalehah dari lingkungan...
Sungguhberat ujian yang Engkau berikan kepada Rasul-Rasul-Mu,..
berikan kami keberanianseperti kekasih-kekasih-Mu,..
yang tanpa ragu berjuang menegakkan syari’at-Mu...
Rabb,
Berilahkami pemahaman ilmu agama...
dan kekuatan untuk menempuh jalan dakwah-Mu yangmenanjak ini...
Rabb,
IzinkanEngkau berikan cinta yang besar,..
yang hanya berawal dari lingkaran-lingkarankecil kami..
Rabb,
Sungguhjalan dakwah ini sangat panjang,sungguh melelahkan,..
Makaperkenankanlah kepada kami pundak yang tangguh untuk menanggung setiap beban...
Rabb,
Ampunikami yang tak peka membaca pertanda dari-Mu...
Rabbi,
Bilakami terlalu bersantai dan berleha di jalan ini, sadarkanlah kami...
Sungguhditimpa beban dunia dan seisinya jauh lebih baik daripada ditimpa sezarah murka-Mu...
Rabbi,
Satukanlahhati-hati kami dalam wadah yang Kau ridhai...
Jauhkanlahkecintaan kepada selain-Mu,...
Tunjukkanlahkami jalan lurus-Mu...
Pertemukanlahlagi kami di syurga-Mu...
Rabb,
Sungguhdunia ini hanya sementara, tak beda dengan senda gurau belaka...
Makajanganlah Engkau biarkan kami terlena olehnya...
Rabbi,
Cintailahkaum muslimin yang yang mengajariku untuk mencintai-Mu...
Keluargayang selalu memudahkanku belajar untuk lebih mengenal-Mu...
Sahabat-sahabatyang tak kenal lelah saling membangunkan untuk Qiyamul Lail...
Sahabat-sahabatyang dalam kesibukannya masih sempat menanyakan bagaimana hafalanku...
Sahabat-sahabatyang mencintaiku karena-Mu,..
Yangtak bosan ingatkanku agar jalankan sunnah Rasul-Mu...
Merekayang bersiaga di pagi hari,..
Saatyang lain masih terlelap, sudah berkumpul mereka dalam siap...
Rabb,
Sungguhaku percaya bahwa do’a kepada-Mu adalah perekat untuk hati-hati kami...
Takkuat kelopakku menahan air mata,..
Saatsetelah sekian lama Insya Allah berjuang bersama, kami akan terpisah...
Untukmenjalankan rencana-Mu yang lain, rencana-Mu yang lebih indah...
Rabbi,
Janganlahjarak di dunia menjadi penghalang hati-hati kami saling mengingatkan untuk alamakhirat...
YaAllah,
Jangansusupkan sekecil biji zarah pun kecintaan kami kepada selain diri-Mu...
Alasanpengorabanan yang bukan karena-Mu...
Rabbi,
Kuatkanbarisan kami di dunia-Mu...
Dankumpulkan kami kembali di dalam jannah-Mu...
Untukmukaum muslimin yang mencintai Allah,..
Suratcintaku untukmu mungkin tak seindah yang kau harapkan...
Tetapido’a dalam hati yang kupanjatkan, semogajadi penguat kalian...
Maafkanaku, maafkan aku, saudaraku...
Bilasempat aku lupa mendo’akanmu...
Saatpernah aku tak ada saat kau membutuhkan pertolonganku...
Teman,
Saatkita sudah bisa merasakan cinta-Nya,..
Sungguhjiwa tak butuh apa-apa selain Dia...
Saatkita bersendirian, tak ada lagi yang kita punya selain Allah,..
Sungguhitu lebih baik daripada dunia dunia dan seisi-Nya...
Untukkaum muslimin di Syria,..
Untukpara mujahid-mujahid di palestina,..
Untukpara pembela agama di Mesir,..
Untukpara pejuang di Rohingya,..
Untuk‘alim ulama di Saudi Arabia,..
Untukpenegak-penegak Al Islam di Turki,..
Utukseluruh keluargaku di Indonesia,..
Untukseluruh muslimin di dunia yang Allah ciptakan sebagai saudara...
Jangankhawatir, Saudaraku...
Tentulahperjalanan kita ini pahit...
Sangatpahit...
Mengapa?...
Karenajannah itu manis...
Allahtak akan menyia-nyiakan pengorbanan kita di jalan-Nya...
Bilasudah mulai terlena dengan dunia,..
Marilahkita kembali mengingat-Nya,..
Duniaitu hina,..
Janganletakkan cinta dunia di hatimu...
Taruhlahia ditanganmu...
Bilasudah tidak sesuai dengan-Nya...
Makabuanglah jauh-jauh kecintaanmu pada dunia...
Jalandakwah ini berliku,..
Bilapun sudah tumbuh bunga-bunga dakwah,..
semak belukar akan turut subur mendampingi...
Bilakau rasa perjalananmu ringan saja, bisa dilalui dengan berleha,..
khawatirlahbahwa kau berada pada jalan yang salah...
MahaBenarlah Allah dengan firman-Nya di Qur’an surat Al Ankabut:
Rabbi,
Sungguhaku ikhlas atas segala kepayahanku di jalan-Mu...
SemogaEngkau meridhoi tertatihnya langkahku...
Rabb,
InsyaAllah ini lah jalan pilihanku...
Jalan menggapai ridho-Mu...
Berikan petunjuk dan hidayah-Mu untukku di jalan ini...
JALANDAKWAH, JALAN YANG KUPILIH...
Bilaurgensi amanah dakwah ini bernilai 10,..
Mari berdo’a dan berusaha agar Allah meningkatkan kualitas diri kita menjadi 10.
Jangan sampai kulitas diri kita yang 5,..
Membuat dakwah menjadi turun harganya...
Kaummuslimin,..
SeringkaliAllah mengingatkan kita dalam kitab-Nya,..
Dilarang menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah !
Terakhir,..
Cintatidak pernah menuntutmu untuk menunggu,..
Ia mempersilakan atau mengambil kesempatan...
Jala ndakwah adalah jalan cinta...
Bilabukan kau pelakunya, maka Allah akan perkenankan orang lain untuk menjalankanamanah besar-Nya...
Amanah dakwah,..
Amanah besar yang gunung-gunung pun enggan melakukannya...
Hanya manusia yang sanggup melaksanankannya...
(Bonita Ayu Andhira)

semoga bermanfaat
salam ukhuwah
Langganan:
Postingan (Atom)
